Headline :
Loading...

ads

Angkutan Berbasis Online Mudahkan Komunitas Difabel

Sabtu, 08 April 2017
SuaraMakassar.com - Keputusan Dinas Perhubungan Sulawesi Selatan (Sulsel) mengeluarkan larangan sementara beroperasi taksi online di Makassar disayangkan oleh oleh komunitas Difabel - yaitu orang yang berkebutuhan khusus - Makassar.

Larangan yang dikeluarkan sejak Kamis, 7 April 2017 tersebut berlaku hingga diterbitkannya keputusan mengikat dari pemerintah.

“Kita sudah sepakat jangan dulu ada angkutan berbasis online yang beroperasi hingga keluar keputusan mengikat, " ungkap Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Sulsel Muhammad Ilyas.

Salah satu difabel tuna netra di Makassar, Nur Syarif Ramadhan sangat menyayangkan keputusan pemerintah tersebut. Sebab transportasi online sangat memudahkan dirinya dan teman-temannya yang juga difabel untuk melakukan aktivitas.
 
"Sejak mereka beroperasi kami tidak kesulitan lagi kalau mau kemana-mana, cukup melakukan pemesanan, maka mereka akan datang ke rumah kami, dan mengantar sampai ke tujuan." kata Syarif

Pelayanan yang diberikan driver taksi online sangat peduli dengan orang seperti dirinya. Menurut Syarif, beberapa perlakuan diskriminasi kerap dialaminya saat hendak bepergian menggunakan transportasi konvensional. Seperti, para sopir angkutan umum Petepete. Difabel, kata dia, ditolak sangat oleh sopir Petepete dan dianggap sebagai sumber penghalang rejeki si sopir.

"Biasanya, kalau pagi-pagi kami mau bepergian, dan kami menunjukkan identitas kami sebagai difabel, sopir transportasi konvensional enggan mengambil kami. mereka berpendapat, jika ada orang buta yang naik ke kendaraan mereka, maka rejeki mereka hari itu akan gelap. begitu pun kalau ada orang pincang yang naik, maka pendapatan mereka tidak akan lancar." ujar Syarif yang juga pengurus Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan.
 
"Transportasi online lebih aman dan nyaman bagi kami. jadi apanya yang meresahkan rakyat?" Tanyanya.

"Sejak beroperasinya transportasi online, kami tidak perlu lagi ke jalan raya menunggu kendaraan jika kami ingin bepergian, kami tak takut lagi mendapatkan perlakuan diskriminatif, karena pada transportasi online, si penyedia jasa memberikan ruang kepada kami apabila ingin melaporkan jika menemukan hal yang kurang berkenan. lagi-lagi hal itu tak kami temukan pada transportasi konfensional." tambahnya.

Sependapat dengan hal tersebut, Abd. Rahman yang saat ini sebagai Direktur PerDIK mengatakan sopir transportasi konvensional seperti taksi juga kerap tidak jujur dalam pembayaran.

Rahman yang mengalami netra ini mengaku beberapa kali dikibuli oleh sopir taksi. "Kita kan tidak bisa melihat argo sopir. Tapi mereka totalkan harga yang menurut saya tidak benar. Karena saya bukan satu dua kali naik taksi konvensional ke tempat itu. " jelasnya.

Selain itu, sopir taksi konvensional sering beralasan tidak punya uang kecil atau recehan untuk pengembalian. 
 
"Jika membayar uang besar kadang tiada ada kembalian. Alasannya tidak ada uang receh, uang kecil. Ini lah yang membuat saya kecewa." Kata Rahman.

Menurutnya berbeda saat dirinya menggunakan layanan taksi online. Dengan mengunduh aplikasinya, kata dia, dirinya bisa mengetahui berapa ongkos yang harus dibayar dan jarak tempuh ke lokasi tujuan.
 
Senada dengan komunitas Difabel, pengusaha katering seperti Dewi (40 th) yang memiliki usaha katering merasakan kenyamanan dengan adanya taksi online. Bisnis saya terbantu. " Pengusaha kecil dan masih minim modal seperti kami ini, sangat terbantu dengan taksi online. Biaya murah dan membantu mempercepat pelayanan kami ke konsumen," ujar Dewi
 
Syarif dan Dewi meminta secepatnya pemerintah mengkaji larangan tersebut sebelum semakin banyak pihak yang dirugikan.
 
Reporter - Ahmad

0 komentar:

Posting Komentar test