Headline :
Loading...

ads

Awas, Gula Palsu Beredar di Sulsel

Selasa, 23 Mei 2017

MAKASSAR.COM - Tim satuan tugas (satgas) pangan Sulawesi Selatan menggerebek sebuah gudang di jl. Ir. Sutami No. 8 Gudang milik UD. Benteng Baru yang berisi gula rafinasi ilegal terbesar di Indonesia di Makassar pada Senin (22/5/2017).


Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel Kombes Yudhiawan Wibisono yang juga Ketua Tim Satgas Pangan Sulsel mengatakan, tim menemukan lebih dari 5.086 ton gula rafinasi ilegal di dalam gudang itu. Rencananya gula akan diedarkan ke enam daerah di Indonesia, yakni Sulawesi Tenggara (Sultra), Sulawesi Tengah (Sulteng), Sulawesi Selatan (Sulsel), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, dan Papua. Khusus di Sulsel, gula rafinasi ilegal itu sudah beredar di sejumlah toko ritel. Bahkan diduga sudah diperjualbelikan sejak tiga tahun lalu.

Polisi menyatakan, gula yang sebenarnya hanya untuk industri itu dikemas ulang Makassar. Perusahaan memalsukan logo Standar Nasional Indonesia (SNI) dan izin Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pada kemasan.

Tim satgas menemukan gula rafinasi yang sudah dikemas dalam kemasan 1 kg sebanyak 4.819 dos, dan dengan berat 25 kg sebanyak 575 dos. Setelah dikemas gula kemudian dijual ke masyarakat seolah-olah gula konsumsi. Padahal, isi kemasan tersebut gula rafinasi.
Dari hasil pengecekan polisi bahwa nomor BPOM pada kemasan merek Sari Wangi tersebut tidak terdaftar. Artinya nomor BPOM tersebut adalah palsu.

"Di kemasan, mulai dari logo SNI sampai izin BPOM-nya itu semua dipalsukan. Bikin logo (SNI dan Izin BPOM) begini, kan, mudah bagi mereka," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulawesi Selatan, Komisaris Besar Polisi Dicky Sondani, dalam konferensi pers di Makassar pada Senin, 22 Mei 2017.

Gula rafinasi adalah gula yang memiliki warna lebih putih dengan tingkat kemurnian yang lebih tinggi. Gula jenis ini banyak digunakan dalam berbagai industri.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perdagangan tahun 2004, gula rafinasi hanya diperuntukkan bagi industri dan bukan untuk dikonsumsi langsung. Gula ini mengandung banyak bahan fermentasi sehingga dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

"Intinya, dia (pihak perusahaan) menipu kita karena sebenarnya tidak memiliki SNI. Label SNI yang ada dikemasan pun hanya ditempeli, bukan tercetak langsung. Tentunya merugikan mengingat masyarakat awam tidak terlalu mengetahui perbedaannya," katanya.

Dicky pun mengimbau agar masyarakat lebih teliti ketika hendak membeli gula. Jangan sampai, masyarakat tergiur dengan harga gula yang murah namun berbahaya.

Gula rafinasi bermerek Sari Wangi itu dijual dengan harga murah di sejumlah pasar tradisional, supermarket hingga swalayan yang rata-rata dijual dikisaran Rp11.900 per kilogram.

Untuk kepentingan penyidikan satgas pangan pun melakukan penyegelan dengan memasang police line di gudang tersebut. Tak hanya itu, petugas pun terus melakukan pengembangan guna mengetahui asal gula rafinasi tersebut termasuk distribusinya.(vv/ant/rio)



0 komentar:

Posting Komentar test