Headline :
Loading...

ads

Hasan Basri Baso : Tak Ada Pengkhianat, Jika Demi Rakyat

Senin, 27 November 2017

Hasan Basri Baso, Ketua Tim SADAPmi Syndicate. 

Suaramakassar.com-Suasana jelang Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2018 mulai memanas.
Usungan-usungan partai politik mulai mengerucut bahkan beberapa partai telah memutuskan untuk mengusung calon, arah dukungan koalisi partai politik pun semakin
nampak.

Netizen di dunia maya pun tak ketinggalan memberikan sikap terhadap pasangan kandidat yang bersaing merebut simpati rakyat. Kampanye dunia maya, kadang lebih dahulu sebelum jadwal resmi yang dirilis KPU.

Serupa di Makassar, sebagai salah satu kota yang ikut melaksanakan Pilkada serentak, warga dunia maya pun ikutan nyinyir dan saling sindir. Seusai deklarasi pasangan Danny Pomanto-Indira Mulyasari di Anjungan Pantai Losari, 22 November 2017.

Serangan warga dunia maya semakin bermunculan. Opini menyebar dan semakin liar. Menggiring dan menggoeng persepsi, hingga bermakna bias.

Sebelum menulis opini ini, saya pun sempat memantau media sosial beberapa hari setelah
deklarasi pasangan DIAmi tesebut. Salah satu akun yang cukup “nakal” bagi saya, yaitu akun facebook yang mengatas namakan ‘chia’.

Saya tidak tahu, apakah akun tersebut dikelola oleh pemilik aslinya ataukah cuma akun fiktif buatan orang tak bertanggung jawab? Saya tidak ingin membahas hal itu. Ataukah membahas akun tersebut perlu dilaporkan ke satuan cyber cryme, itu juga bukan domain saya.

Toh, bukan saya yang
dihina dan dicaci. Lalu, untuk apa tulisan ini? Minimal membuka pikiran si pemilik akun
atau si pembuat tulisan, bahwa tak ada kata pengkhianatan, jika itu untuk kepentingan
rakyat.

Berikut petikan akun tersebut, “..........., bagaimana caranya makassar jangan mundur
lagi kalau calon wakilnya pengkhianat partai dan pengkhianat teman sendiri dia sudah
menanda tangani surat dukungan sama Cicu ketua DPD nya NasDem Baru berhianat.......”.

Menyimak tulisan ini, jelas mengarah pada “pembusukan karakter” bakal calon wakil Wali Kota Makassar, Indira Mulyasari Paramastuti, yang baru saja melakukan deklarasi berpasangan dengan petahana Danny Pomanto.


Mengenai tulisan tersebut, ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Pertama, budaya Makassar mengendapankan prinsip saling menghormati, menghargai, serta sopan santun yang lebih dikenal dengan Sombere’.

Hal ini merupakan identitas dan berlaku dimanapun, baik dalam kondisi demokrasi atau perebutan kekuasaan sekalipun. Dengan demikian, sangat disayangkan budaya yang mampu membangun karakter dengan baik ini, malah
dirusak oleh segelintir oknum yang ingin “tuannya” berkuasa.

Pada kondisi seperti ini, tentunya warga dunia maya dan juga warga Kota Makassar secara keseluruhan, tentunya sudah dapat menilai pemimpin yang dapat mengahargai rakyat, menghormati rakyat dan Sombere’ terhadap rakyatnya.

Sebab pemilih Makassar
adalah pemilih yang cerdas dan cinta damai, tak termakan dengan hasutan belaka.

Kedua, pemilihan kepala daerah adalah proses demokrasi. Sejak dulu kita telah diajarkan
bahwa demokrasi adalah oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat.

Lebih ilmiah lagi, menurut Harris Soche, demokrasi adalah bentuk pemerintahan rakyat, karena itu kekuasaan pemerintahan itu melekat pada diri rakyat, diri orang banyak dan merupakan hak bagi rakyat atau orang banyak untuk mengatur, mempertahankan dan melindungi dirinya dari paksaan dan pemerkosaan orang lain atau badan yang diserahi untuk memerintah.

Mencermati penjelasan pakar diatas, lalu menghubungkan tema deklarasi pasangan
DIAmi, Semua Untuk Rakyat. Saya rasa ini adalah proses demokrasi murni yang
mengedepankan hak rakyat dan kehendak rakyat. Sehingga keputusan Indira Mulyasari Paramastuti meninggalkan keputusan partainya, dan meninggalkan ketua umumnya yang juga bakal calon wakil wali kota, dan rela dipecat dari legislatif dan bendahara partai,
merupakan keinginannya untuk bersama rakyat.

Sederhananya begini, setelah hampir empat tahun memimpin Makassar, wali Kota
Makassar, Danny Pomanto telah memberikan kerja nyata memberikan senyuman bagi warga hingga ke lorong-lorong.

Atas kerja tersebut, tak heran warga meminta sang petahana untuk mencukupkan dua periode kepemimpinan agar capaian selama ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Permintaan rakyat, jangan biarkan Makassar mundur lagi,
atas permintaan itu, Danny memilih Indira untuk mendampinginya mewujudkan harapan
rakyat.

Pada sisi ini, Indira menerima mendampingi Danny besama-sama mewujudkan harapan rakyat agar Makassar jangan mundur lagi.

Bersama rakyat untuk kepentingan rakyat, bagi saya adalah keputusan yang tepat. Ini
membuktikan Indira lebih mementingkan kepentingan rakyat Makassar ketimbang
kepentingan partai, dan golongan tertentu. Adakah pengkhianatan jika itu untuk
kepentingan rakyat?


Ketiga, Indira Mulyasari Paramastuti membuktikan kepada publik bahawa sosoknya
memiliki tekad dan keberanian berbuat untuk rakyat. Indira merupakan perempuan yang berani mengambil keputusan.

Dia sadar, bahwa langkah dan keputusannya akan berbuah cemohan, namun dia melangkah pada panggung deklarasi meninggalkan dan
menanggalkan semua jabatan di partai dan legislator. Baginya, bersama untuk rakyat,
maka dia akan tetap bersama-sama dengan sekelompok yang merasa tersakiti hari ini, sebab tujuannya sama meski langkahnya yang berbeda.

Pada poin ini, Indira adalah guru bagi kaum peempuan Makassar. Yakni, bagi perempuan jika itu demi rakyat, jangan takut atas tekanan dan cemohan, bergeraklah untuk Makassar dua kali tambah baik.


Keempat, pasangan DIAmi telah melakukan deklarasi, kami tunggu pasangan kandidat lain untuk melakukan deklarasi selanjutnya. Silahkan berkompetisi secara sehat, tak perlu
melakukan kampanye hitam. Tetaplah berpikir fositif, sebab itu akan melahirkan pemimpin yang positif.

Pilkada kali ini, sebagai mana Pilkada yang lalu-lalu dan masa yang akan datang, tetaplah bertarung dengan gagasan yang membangun daerah dan
rakyatnya. Tak perlu lagi ada anekdot, “kita bersaudara di tahun 2018. Kita bersahabat di
tahun 2018”. Selepas itu, kita bersaudara dan bersahabat pada lima tahun yang akan datang.

Politik dan pesta demokrasi, memang syarat akan kepentingan. Tapi alangkah elok
semua kepentingan itu tak ada yang bersifat pribadi, semua disandarkan kepada Tuhan dan untuk rakyat. Melalui momentum ini, mari menjadikan rakyat sebagai the real of king. Biarlah mereka memilih dengan jujur tanpa manipulasi.

Kelima, rakyat tak pernah berkhianat, maka baiknya bersama rakyat.


Kontributor : Imad

0 komentar:

Posting Komentar test