Opini : Ismail Ardha Wahid
Kota Makassar, sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia Timur, bukan hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi dan budaya, tetapi juga menghadapi kompleksitas persoalan perkotaan yang semakin meningkat. Salah satu masalah krusial yang terus membayangi kehidupan masyarakat adalah persoalan sampah. Masalah ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menyentuh aspek sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat, sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan yang serius.
Sampah sebagai Akibat sekaligus Penyebab Masalah Sosial
Pertumbuhan penduduk yang pesat dan tingginya laju urbanisasi telah meningkatkan volume sampah harian secara signifikan. Di banyak kawasan permukiman padat, terutama di wilayah kumuh dan pinggiran kota, fasilitas pengelolaan sampah masih belum memadai. Akibatnya, sebagian masyarakat terpaksa membuang sampah sembarangan di jalanan, sungai, atau lahan kosong. Praktik ini, yang awalnya terjadi karena keterbatasan sarana, lambat laun berubah menjadi kebiasaan yang sulit diubah.
Kondisi tersebut memperparah kesenjangan sosial. Wilayah dengan akses terbatas terhadap layanan kebersihan cenderung memiliki lingkungan yang kumuh dan tidak sehat, sehingga berdampak langsung pada kualitas hidup warganya. Anak-anak yang tumbuh di sekitar tumpukan sampah berisiko lebih tinggi terserang penyakit, sementara orang tua harus menanggung beban tambahan untuk biaya pengobatan. Tidak jarang, persoalan sampah juga memicu konflik antarwarga, terutama ketika muncul perbedaan pandangan mengenai tanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan.
Dampak terhadap Ekonomi dan Aktivitas Masyarakat
Problematika sampah di Kota Makassar juga berdampak pada sektor ekonomi. Kawasan wisata, seperti Pantai Losari, serta pusat-pusat bisnis yang tampak kumuh akibat sampah dapat menurunkan minat wisatawan dan investor. Dampak lanjutan dari kondisi ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil, pedagang kaki lima, pengemudi transportasi, hingga pekerja sektor pariwisata yang menggantungkan penghasilan pada aktivitas ekonomi kota.
Di sektor perikanan, pencemaran perairan Teluk Makassar dan sungai-sungai di sekitarnya akibat sampah menjadi tantangan serius bagi nelayan. Hasil tangkapan menurun, dan sebagian ikan bahkan terkontaminasi mikroplastik, sehingga sulit dipasarkan dan berpotensi membahayakan kesehatan konsumen. Kondisi ini juga berdampak pada pedagang makanan di pasar tradisional maupun di pinggir jalan yang harus berjuang menjaga kebersihan produk mereka di tengah lingkungan yang kurang mendukung.
Faktor Budaya dan Kesadaran Masyarakat
Akar persoalan sampah tidak bisa dilepaskan dari faktor budaya dan tingkat kesadaran masyarakat. Sampah masih sering dipandang sebagai sesuatu yang tidak bernilai, cukup dibuang tanpa memikirkan dampaknya. Rendahnya pemahaman tentang efek jangka panjang dari sampah yang tidak terkelola dengan baik membuat upaya perubahan perilaku menjadi tantangan tersendiri.
Selain itu, keterbatasan akses terhadap fasilitas pendukung—seperti tempat sampah yang mudah dijangkau, sistem pengangkutan yang teratur, serta program pemilahan sampah di tingkat rumah tangga—membuat masyarakat kesulitan menerapkan perilaku ramah lingkungan. Banyak yang masih beranggapan bahwa pengelolaan sampah sepenuhnya merupakan tanggung jawab pemerintah, tanpa menyadari bahwa peran individu dan komunitas memiliki arti yang sangat besar.
Upaya Kolaboratif Menuju Solusi
Meski demikian, berbagai upaya terus dilakukan untuk mengatasi problematika sampah di Kota Makassar. Pemerintah kota telah meluncurkan sejumlah program, seperti pemilahan sampah wajib dan pengembangan tempat pembuangan akhir (TPA) yang lebih ramah lingkungan. Salah satu inovasi yang mulai diperkenalkan adalah Teba, yakni penampungan sampah basah yang dikelola menjadi pupuk kompos. Program ini bertujuan mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA sekaligus menantang masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.
Di sisi lain, kolaborasi dengan organisasi masyarakat dan komunitas lokal terus diperkuat melalui kampanye kebersihan, kegiatan bakti sosial pembersihan sungai dan pantai, serta pelatihan pengolahan sampah menjadi kompos atau produk bernilai tambah. Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa solusi persoalan sampah tidak dapat berjalan sendiri, melainkan memerlukan keterlibatan banyak pihak.
Perubahan nyata hanya dapat tercapai jika terbangun sinergi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha. Penyediaan fasilitas yang memadai, edukasi yang berkelanjutan, serta pemberian insentif bagi warga yang aktif berpartisipasi dalam pengelolaan sampah menjadi kunci penting. Dengan komitmen bersama, persoalan sampah di Kota Makassar dapat diatasi, sehingga masyarakat dapat menikmati lingkungan yang lebih bersih dan kualitas hidup yang lebih baik.
Insya Allah, pada tahun ini kami juga akan menggagas program percontohan pembangunan 100 Teba di wilayah sekitar Kelurahan Biring Romang, Kecamatan Manggala. Program ini akan dilaksanakan bersama Dewan Pemerhati Sampah Kota Makassar, Bapak Mashud Asikin, serta komunitas Manggala Tanpa Sekat, sekaligus mendukung penguatan bank sampah di setiap RT dan RW. Upaya ini diharapkan menjadi langkah nyata menuju zero waste (nol sampah) Kota Makassar tahun 2029. Aamiin.


Social Header